Soal
:
Jelaskan hakikat ibadah dan apa
hubungannya dengan pendidikan!
Jawaban
:
1.
Pengertian
Ibadah
Kata ibadah adalah berasal dari bahasa arab yang berarti: Do'a,
mengabdi, tunduk atau patuh kepada Allah SWT. Berdasarkan firman Allah dalam
Al-qur'an surat Al-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:
Artinya:
Dan
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.
Sedangkan menurut
istilah, Hasbi Al-Shiddiqqi mengatakan dalam ceramah atau kulyahnya, menurut
ulama' tauhid:
Pengesaan
allah dan pengagungannya dengan sepenuh hati dan dengan segala kerendahan hati
daan kepatuhan diri kepadanya.
Menurut ulama' tasawuf,
ibadah ialah:
Perbuatan
mukallaf yang berlawanan dengan hawa nafsunya untuk mengagungkan tuhan.
Menurut ulama' fiqih,
ibadah ialah:
Segala
kepatuhan yang dilakukan untuk mencapai ridho Allah, untuk mengharapkan pahala-Nya
di akherat
Sedangkan menurut
jumhur ulama', ibadah ialah:
Ibadah
adalah nama yang mencakup segala yang disukai Allah dan diridhoinya, baik
berupa perkataan ataupun perbuatan, baik terang-terangan maupun diam-diam.
Dasar
Hukum
Sesuai dengan firman
Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 21:
Artinya:
Hai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertakwa,
Hakikat
Ibadah
Berdasarkan firman
Allah dan pengertian menurut para ulama', baik dalam arti khusus maupun dalam
arti luas, seorang muslim maupun bagi Non muslim, bahkan bagi manusia umumnya,
ibadah merupakan konsekuensi dalam hidupnya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Manusia ditakdirkan
sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan akal dari makhluk lainnya, namun pada
kenyataannya manusia tidak selalu menggunakan akal sehatnya, bahkan ia sering
dikuasai nafsunya, sehinga ia terjerumus kedalam apa yang disebut dehumanisasi,
yaitu proses yang menyebabkan kerusakan, hilang atau merosotnya nilai-nilai
kemanusiaan, disinilah perlunya agama bagi manusia.
Dengan agama, hidup
manusia menjadi bermakna. Makna agama terletak pada pungsinya sebagai control
moral manusia. Melalui ajaran-ajarannya, agama menyuruh manusia agar selalu
dalam keadaan sadar dan menguasai diri.keadaan sadar dan menguasai diri pada
manusia itulah yang merupakan hakekat agama, atau hakekat ibadah, melalui
ibadah atau pengabdian kepada Allah itulah hidup manusia terkontrol.
HUBUNGAN
HAKIKAT IBADAH DENGAN PENDIDIKAN
Pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau
pelatiahan peserta didik secara aktif dapat mengembangakan potesi dirinya
supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang di perlukan
dirinya dan masyarakat.
Menurut ulama tauhid, ibadah adalah
meng-Esakan Allah swt. dengan sungguh-sungguh dan merendahkan diri serta
menundukan jiwa setunduk-tunduknya kepada-Nya. Sedangkan ulama fiqih
berpendapat, ibadah adalah semua bentuk pekerjaan yang bertujuan memperoleh
keridhaan Allah swt. dan mendambakan pahala dari-Nya di akhirat. Dari kedua
pandangan para ulama tersebut, ibadah dapat dipahami sebagai perwujudan segala
sikap dan amalan meng-Esakan Allah swt guna mengharap keridhaan-Nya.
Dari segi bahasa, ibadah berarti
taat, tunduk, menurut, mengikuti, dan doa (Ahmad dan Musdah, 2003 : 137).
Sedangkan secara terminologi, ibadah berarti melaksanakan perintah-perintah
Allah secara baik (Mahdi, 2003 : 6). Dapat dimengerti bahwa ibadah merupakan
pengabdian dan ketundukan tertinggi kepada Allah swt. Selain Allah tidak ada
yang berhak disembah.
Ø Dapat disimpukan bahwa pendidikan
ibadah adalah Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan semua bentuk pekerjaan
yang bertujuan memperoleh keridhaan Allah serta menundukan jiwa kepada-Nya.
Dilihat dari segi pelaksanaannya
ibadah dibagi dalam tiga bentuk :
1. Ibadah jasmaniah-ruhiah (ruhaniah)
yaitu perpaduan ibadah jasmani dan ruhani, seperti shalat dan puasa.
2. Ibadah ruhiah dan maliah, yaitu
perpaduan antara ibadah ruhani dan harta, seperti zakat.
3. Ibadah jasmaniah, ruhiah, dan maliah
sekaligus, seperti melaksanakan haji.
Dilihat dari segi bentuk dan
sifatnya, ibadah ada lima macam, yakni :
1. Ibadah dalam bentuk perkataan atau
lisan (ucapan lidah), seperti berzikir, berdoa, tahmid, dan membaca Al-Quran.
2. Ibadah dalam bentuk perbuatan yang
tidak ditentukan bentuknya, seperti membantu atau menolong orang lain, jihad,
dan tajhiz al- janazah (mengurus jenazah).
3. Ibadah dalam bentuk pekerjaan yang
telah ditentukan wujud perbuatannya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji.
4. Ibadah yang tata cara dan
pelaksanaannya berbentuk menahan diri seperti puasa, iktikaf, dan ihram.
5. Ibadah yang berbentuk menggugurkan
hak, seperti memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan terhadap dirinya
dan membebaskan seseorang yang berhutang kepadanya.
Ibadah sebagai Psikoterapis Kejiwaan
Setiap manusia yang mengaku hamba
Allah tentu telah terbiasa melaksanakan ibadah-ibadah terutama ibadah mahdhah.
Namun, sejauh ibadah itu dilakukan sejauh mana pengaruhnya terhadap jiwa
pelakunya? Untuk mengetahui jawabannya, berikut akan diulas beberapa bentuk
ibadah dan efeknya secara psikis. Hal inilah yang kemudian dikenal dengan
psikoterapi melalui amalan ibadah.
1. Shalat
Sudah menjadi ketentuan syara’ bahwa
shalat akan sah jika pribadi muslim telah menunaikan whudu. Maka akan diulas
sekilas perihal whudu. Menurut Ahmad dan Musdah (2003: 147), wudhu adalah suatu
cara untuk menghilangkan hadas kecil ataupun hadas besar yang dilakukan sebelum
mengerjakan shalat dan ibadah-ibadah lain, menjadikan wudhu sebagai salah satu
syaratnya.
Air suci dan mensucikan menjadi
media wajib untuk berwudhu. Seperti diketahui, air memiliki sifat jernih,
mengalir dan menyegarkan. Sehingga dengan air kotoran-kotoran yang menempel
pada tubuh dapat dibersihkan dengan sempurna. Secara maknawi, kotoran-kotoran
baik secara fisik maupun psikis luntur dan mengalir mengikuti aliran air wudhu.
Wudhu disebut juga sebagai salah
satu bentuk dari terapi air ( water of therapy). Terapi air merupakan bentuk
terapi dengan memanfaatkan air sebagai media terapis. Beberapa pusat terapi
kesehatan telah mengembangkan terapi air ini berhubung sangat diminati. Rafi’udin
dan Alim Zainudin (2004: 117) mengatakan selain dampak psikis, wudhu juga
memiliki pengaruh fisiologis, sebab dengan dibasuhnya bagian tubuh sebanyak
lima kali sehari, lebih-lebih ditambah, maka akan membantu mengistirahatkan
organ-organ tubuh dan meredakan ketegangan fisik dan psikis.
Secara etimologi kata shalat berarti
doa memohon kebaikan. Sholat memiliki pengaruh yang sangat efektif untuk
mengobati rasa sedih dan gundah yang menghimpit manusia. Saat sholat didirikan
dengan menyempurnakan wudhu, niat yang ikhlas, adab-adab seperti tuma’ninah (
tenang sejenak), gerakan tidak terlalu cepat, memahami bacaan sholat maka akan
mendatangkan kekhusukan dan menjadi terapi tersendiri bagi jiwa. Dengan kata
lain, jiwa akan tenang jika shalat dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah
saw.
Mendirikan sholat selalu dilakukan Rasulullah saat beliau
dirundung berbagai persoalan penting. Diriwayatkan dari Hudzaifah ra. Ia
berkata: “Jika mendapat persoalan, maka Nabi saw mendirikan shalat (HR. Abu
Dawud). Shalat inilah solusi dari Allah swt. bagi hamba-Nya ketika mengalami
persoalan.
Allah
swt berfirman:
“Jadikanlah
sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Secara mendalam, Toto Tasmara (2001: 81) mengungkapkan bahwa
shalat jangan dipandang hanya dalam bentuk formal ritual gerakan fisik yang
terkait erat dengan tatanan fiqih, tapi juga muatan mendalam terhadap pemahaman
simbol-simbol atau hakikat yang terkandung di dalamnya.
Beliau menggambarkan gerakan shalat sebagai simbol dari
siklus kehidupan. Dapat dilihat isyarat dari simbol-simbol gerakan dalam
shalat, yaitu filsafat gerak. Pribadi muslim harus bergerak, dinamis, karena
tidak selamanya hidup ini akan qiyam’berdiri’, lambang kejayaan (dewasa). Suatu
saat ia harus ruku (umur setengah baya), kemudian bersujud (umur mulai uzur)
(Tasmara, 2001: 82).
Melalui shalat, kepribadian seseorang akan terbimbing dalam
menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Senada dengan Toto Tasmara (2001: 83),
shalat menunjukkan sikap batiniah untuk mendapatkan kekuatan, kepercayaan diri,
serta keberanian untuk tegak berdiri menapaki kehidupan dunia nyata melalui
prilaku yang jelas, terarah, dan memberikan pengaruh pada lingkungan.
Shalat selesai dilakukan. Selanjutnya kesejukan batin akan
diraih dengan iringan munajat kehadirat Allah Rabbul Izzati melalui zikir, doa
dan tilawah Alquran.
2. Zikir dan Membaca Alquran
Setiap hamba mendambakan ketenangan dan ketentraman jiwa
dalam menjalani kehidupan ini. Harapan demikian dapat dicapai dengan
mendekatkan diri kepada sumber dari segala ketenangan dan ketentraman yakni
Allah Azza wa jalla. Sering menyebut, memuja dan mengingat asma-Nya di dalam
hati maka jiwa akan tenang. Adapun bentuk ibadah yang dimaksud adalah zikir dan
membaca Alquran.
a. Zikir
Firman Allah swt.
“(yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”. (QS. Ar-Ra’ad: 28).
Alquran menjelaskan begitu penting melakukan zikrullah
(berzikir kepada Allah) untuk ketentraman hati hamba-Nya yang beriman. Hal ini
diperjelas oleh Rasulullah saw. dalam hadits Beliau. Diriwayatkan dari Abu
Hurairah ra. Dan Abu Sa’id ra., bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:
Tidaklah suatu kelompok yang duduk
berzikir melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat. Mereka mendapat
limpahan rahmat dan mencapai ketenangan. Dan Allah swt akan mengingat mereka
dari seseorang yang diterima di sisi-Nya (HR. Muslim dan Tirmidzi).
b. Membaca Alquran
Akhir-akhir ini, di beberapa tempat telah dibuka pusat-pusat
pengobatan ruhani atau pengobatan yang menggunakan Alquran (Abdurrahman, 2005:
11). Pengobatan tersebut biasa dikenal dengan istilah ruqyah syar’iah. Namun,
saat ini secara umum sebagian masyarakat memandang ruqyah sebagai bentuk terapi
atau pengobatan alternatif guna membantu kesembuhan dari penyakit ulah jin atau
roh jahat di dalam tubuh manusia. Tidak menutup kemungkinan, Alquran juga
dipahami sekadar kumpulan surah dan ayat penangkal dan pengusir kejahatan
gangguan jin dan bangsanya.
Paradigma tersebut sangatlah keliru dalam memahami Alquran
sebagai petunjuk bagi umat manusia menuju jalan yang lurus. Alquran adalah
kitabullah yang suci, diturunkan oleh Allah dengan posisi lebih tinggi,
terhormat, lebih bernilai dari segala karya ilmuwan manapun di sepanjang
sejarah peradaban manusia
Dalam
Alquran Allah swt menyatakan bahwa Alquran bisa menjadi penawar (obat) bagi
hamba-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
“...Katakanlah: "Al Quran itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak
beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan
bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.
(QS. Fushshilat: 44)
Ayat di atas semakna dengan surah Al-Isra’: 82 dan Yunus:
57. Ayat-ayat ini menjadi dasar bahwa Alquran memang telah ditetapkan Allah swt
sebagai pendekatan pesan-pesan ilahiah yang berfungsi terapis kejiwaan
sekaligus pedoman hidup bagi hamba-Nya agar selalu berada di jalan kebaikan dan
kebenaran.
Membaca Alquran disertai mentadabburi setiap bacaan ayat
dapat membimbing jiwa agar ikhlas beramal dan tawadhu dalam bersikap sesuai
dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran. Sangat dianjurkan meluangkan
waktu untuk membaca Alquran setiap hari meski di tengah kesibukan. Apalagi
meningkatkan kualitas bacaannya di bulan suci Ramadhan. Selain memperoleh
pahala puasa juga mendapat keutamaan membaca Alquran di bulan maghfirah
tersebut.
3. Puasa (Shaum)
Muhammad ‘Utsman Najati (2004: 344) mengatakan, ibadah puasa
mengandung beberapa manfaat yang besar, di antaranya menguatkan kemauan dan
menumbuhkan kemampuan jiwa manusia dalam mengontrol nafsu syahwatnya.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw
pernah berkata: “Allah swt. Berfirman: “Setiap amal perbuatan anak Adam as.
Akan kembali pada diri masing-masing kecuali puasa karena puasa hanyalah
untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Puasa itu merupakan sebuah tameng
jika sehari saja seseorang yang berpuasa tidak berbuat cabul dan berkata kotor.
Kemudian jika ada orang lain yang mencelanya atau ingin membunuhnya, maka
hendaknya ia berkata: “Aku adalah orang yang berpuasa’ (Syaikhan dalam ‘Utsman,
2004: 345).
Puasa merupakan sarana latihan untuk menguasai dan
mengontrol motivasi atau dorongan emosi, serta menguatkan keinginan untuk
mengalahkan hawa nafsu dan syahwat. Rasulullah saw menganjurkan kepada para
pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa agar dapat membantu mereka
mengontrol motivasi seksualnya.
Selain itu, kesabaran menahan rasa lapar dan dahaga membuat
seseorang yang berpuasa merasakan penderitaan orang lain yang serba kekurangan.
Sehingga muncul rasa kasih sayang terhadap sesama dan mendorong untuk membantu
fakir miskin. Perasaan dan sikap peka secara sosial di masyarakat inilah yang disebutkan
dapat melahirkan rasa kedamaian dan kelapangan jiwa.
4. Haji
Ibadah haji berawal dari kisah Nabi Ibrahim as. Kisah ini
menggambarkan suatu makna bahwa perjuangan untuk mendapatkan ridha Allah adalah
dengan mengorbankan apa yang paling disayangi dan dimiliki. Setelah itu dengan
perjuangan keras, penuh tawakal dan pengorbanan semua rahmat dan kasih sayang
Allah akan tercurah (Rudhy Suharto, 2002: 159).
Menunaikan ibadah haji dapat melatih kesabaran, melatih jiwa
untuk berjuang, serta mengontrol syahwat dan hawa nafsu. Ibadah haji menjadi
terapi atas kesombongan, arogansi, dan berbangga diri sebab dalam praktek
ibadah haji kedudukan semua manusia sama. Permohonan ampunan dan ditambah
suasana yang bergemuruh penuh lantunan Ilahi membuat suasana ibadah haji sarat
dengan nilai spiritualitas yang dapat mengobarkan rasa semangat yang tinggi
untuk meraih ketenangan (‘Utsman, 2004: 348).
Rudhy Suharto (2002: 163) menjelaskan, wukuf di arafah
menjadi media meditasi untuk merenungi perbuatan masa lampau yang menjauhkan
diri dari Allah swt dan memahami lebih dalam hakikat tujuan hidup. Perjalanan
Shafa dan Marwah bermakna perjuangan spiritualitas diri untuk bertarung melawan
hawa nafsu. Melempar Jumrah ‘Aqabah mengisyaratkan melempar semua sifat
kejahiliahan seperti kemunafikan, kedustaan dan keduniawian.
Berhaji akan membawa seseorang mentafakuri atau
mengintrospeksi diri guna mencari jati diri seorang hamba yang hakiki. Hakikat
seorang hamba adalah senantiasa mengabdikan diri dan kehidupannya untuk Allah
semata. Pengabdian dengan keikhlasan itulah yang mengundang curahan rahmat
serta ridha-Nya. Jiwa hamba pun akan suci dan tenang.
Raih Ketenangan Jiwa
Beragam cara dilakukan seseorang
untuk meraih ketenangan dan ketentraman jiwa. Setiap cara atau metode ‘ibadah’
di atas memiliki efek tersendiri bagi pengamalnya. Namun hal itu tergantung
sumber ajaran yang digunakan dalam aktivitas ritualnya. Sebagai muslim yang
taat sudah tentu memilih satu-satunya cara yang dapat memberikan ketenangan
jiwa yakni ibadah berdasarkan tuntunan ajaran Islam yang diajarkan oleh
Rasulullah saw.
Al-Qur’an dan sunnah sebagai ilmu
pengetahuan yang telah memberikan suatu hal yang baru dalam ilmu kejiwaan
kaitannya dengan pengaruh ibadah. Hal tersebut memberikan bimbingan kepada
manusia untuk dapat mencapai kehidupan sehingga ia mampu meraih kebahagiaan,
kebaikan dan kedamaian hidup di dunia dan akhirat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar