A. Pengertian
Kepemimpinan
Kepemimpinan menurut Amitai Etzioni adalah kekuatan (power)
yang didasarkan atas tabiat/watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih,
biasanya bersifat normative. Menurut James Lipham, Kepemimpinan adalah
permulaan dari suatu struktur atau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan
dan sasaran organisasi atau untuk mengubah tujuan-tujuan dan sasaran
organisasi. Sedangkan menurut Ralph M. Stogdill Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi kegiatan-kegiatan suatu kelompok yang diorganisasi menuju kepada
penentuan dan pencapaian tujuan.
Demikian beberapa definisi tentang kepemimpinan yang
masing-masing tokoh berbeda pendapat tentang pengertian dari kepemimpinan
tersebut, namun menurut saya bahwa yang dimaksud dengan kepemimpinan adalah
suatu proses dimana seorang pemimpin memimpin organisasi yang dia pimpin.
Kepemimpinan yang dia lakukan bisa baik dan juga bisa kurang baik. Menurut fred
E. Fiedler, pemimpin ialah individu di dalam kelompok yang memberikan
tugas-tugas pengarahan dan pengoordinasian yang relevan dengan
kegiatan-kegiatan kelompok.
Kepemimpinan dalam organisasi berarti penggunaan kekuasaan
dan pembuatan keputusan-keputusan. Hakikat kepemimpinan organisasi adalah
penambahan pengaruh (influential increment) terhadap dan di atas pelaksanaan
mekanis pengarahan-pengarahan rutin dari suatu organisasi. Kepemimpinan terjadi
di dalam kelompokdua orang atau lebih, dan pada umumnya melibatkan pemberian
pengaruh terhadap tingkah laku anggota kelompok dalam hubungannya dengan
pencapaian tujuan-tujuan kelompok.
B.
Pendekatan-pendekatan Kepemimpinan
Ada beberapa
pendekatan yang bisa dilakukan terkait dengan kepemimpinan, diantaranya sebagai
berikut :
1. Pendekatan sifat
Keberhasilan atau kegagalan seseorang banyak ditentukan atau
dipengaruhi oleh sifat-sifat yang dimiliki oleh pribadi si pemimpin tersebut.
Sifat-sifat itu ada karena pembawaan atau keturunan. Jadi,menurut pendekatan
ini, seseorang menjadi pemimpin karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir,
bukan karena dibuat atau dilatih.
2.
Pendekatan perilaku
Pendekatan prilaku (behavioral appoach) merupakan pendekatan
yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin
ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin
tersebut. Sikap dan gaya kepemimpianan itu tampak dalam kegiatannya
sehari-hari, dalam hal bagaimana cara pemimpin itu memberikan perintah, membagi
tugas dan wewenangnya, cara berkomunikasi, cara mendorong semangat kerja
bawahan, cara menyelenggarakan dan memimpin rapat anggota, cara mengambil
keputusan, dan sebagainya.
3.
Pendekatan kontingensi/ situasional
Pendekatan ini didasarkan atas asumsi bahwa keberhasilan
kepemimpinan suatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung pada atau
dipengaruhi oleh prilaku dan sifat-sifat pemimpin saja. Tiap-tiap organisasi
atau lembaga memiliki cirri-ciri khusus dan unik. Bahkan organisasi atau
lembaga yang sejenis pun akan mengahadapi masalah yang berbeda karena
lingkungan yang berbeda, semangat dan watak bawahan yang berbeda, situasi yang
berbeda-beda ini harus dihadapi dengan prilaku kepemimpin yang berbeda pula.
4.
Pendekatan kepemimpinan path goal
Pendekatan ini lebih menitik beratkan pada bagaimana sosok
pemimpin tersebut, apakah berwibawa atau tidak.
5.
Pendekatan siklus kehidupan
Siklus kehidupan merupakan salah satu komponen yang sangat
mempengaruhi suatu kepemimpinan. Siklus kehidupan yang damai stabil akan
menciptakan pemimpin yang tenang dan ramah. Berbeda jika suasana yang kurang
baik.
C.
Model-model Kepemimpinan
Pendekatan
situasional atau pendekatan kontingensi akan melahirkan banyak model
kepemimpinan. Beberapa model kepemimpinan yang akan diutarakan di sini adalah
model kepemimpinan kontingensi Fielder, model kepemimpinan tiga dimensi, dan
kepemimpinan lima faktor.
1.
Model
kepemimpinan kontingensi Fielder
Model
kepemimpinan ini dikembangkan oleh Fred E. Fielder. Dia berpendapat bahwa
keberhasilan seorang pemimpin tidak hanya ditentukan oleh suatu gaya
kepemimpinan yang diterapkannya. Dengan kata lain, tidak ada seorang pemimpin
yang dapat berhasil hanya dengan menerapkan satu macam gaya untuk semua
situasi. Seorang pemimpin cenderung akan berhasil menjalankan kepemimpinannya
apabila menerapkan gaya kepemimpinan yang berlainan untuk menghadapi situasi
yang berbeda.
2.
Model
kepemimpinan tiga dimensi
Pendekatan
atau model kepemimpinan ini dikemukakan oleh William J. Reddin. Model ini
dinamakan Tree-dimensional-model karena dalam pendekatannya menghubungkan tiga
kelompok gaya kepemimpinan, yang disebutnya gaya dasar, gaya efektif, dan gaya
tak efektif menjadi satu kesatuan.
3.
Model
kontinum berdasarkan banyaknya peran serta bawahan dalam pengambilan keputusan.
Pengembangan
model kepemimpinan ini adalah Vroom dan Yetton. Keduanya berpendapat bahwa ada
dua macam kondisi utama yang dapat dijadikan dasar bagi pemimpin untuk
mengikutsertakan atau tidak mengikutsertakan bawahan dalam pembuatan keputusan.
Dua macam kondisi ialah: (1) tingkat keefektifan teknis di antara para bawahan
dan (2) tingkat motivasi serta dukungan para bawahan.
D.
Tipe atau gaya kepemimpinan
Adapun
gaya-gaya kepemimpinan yang pokok, atau dapat disebut ekstrim ada lima, yaitu
(1) Otokratis, (2) Militeristis, (3) Paternalistis, (4) Karismatis, dan (5)
Demokratis.
1)
Kepemimpinan
yang otokratis
Seorang
pemimpin yang otokratis: a) Menganggap orang yang dipimpinnya sebagai milik
pribadi. b) Mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. c)
Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata. d) Tidak mau menerima pendapat,
saran, dan kritik dari anggotanya. e) Terlalu tergantung pada kekuasaan
formalnya. f) Caranya menggerakan bawahan dengan pendekatan paksaan dan
bersifat mencari kesalahan/ menghukum.
2)
Militeristis
Seorang pemimpin yang militeristis memiliki
sifat-sifat: a) Dalam menggerakan bawahan sering menggunakan cara perintah. b)
Dalam menggerakan bawahan senang bergantung pada pangkat/ jabatannya. c) Senang
kepada formalitas yang berlebihan. d) Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku
pada bawahan. e) Sukar menerima kritikan atau saran dari bawahannya. f)
Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3)
Paternalistis
Seorang pemimpin yang paternalistis; a)
Menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak dewasa. b) Bersifat terlalu
melindungi (overprotective) c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk mengambil keputusan. d) Hamper tidak pernah memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk berinisiatif sendiri. e) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan
untuk mengembangkan kreasi dan fantasinya. f) Sering bersikap mahatahu.
4)
Karismatis
Ciri-ciri
seorang pemimpin yang karismatis: a) Mempunyai daya tarik yang sangat besar,
karena itu umumnya mempunyai pengikut yang besar jumlahnya. b) Pengikutnya
tidak dapat menjelaskan, mengapa mereka tertarik mengikuti dan menaati pemimpin
itu. c) Dia seolah-olah memiliki kekuatan gaib (superanatural power). d)
Karisma yang dimilikinya tidak bergantung pada umur, kekayaan, kesehatan,
ataupun ketampanan si pemimpin.
5)
Demokratis
Pemimpin
yang demokratis memiliki sifat-sifat: a) Dalam menggerakan bawahan bertitik
tolak dari pendapat bahwa manusia itu mahluk yang termulia di dunia. b) Selalu
berusaha untuk menyinkronkan kepentingan da tujuan organisasi dengan
kepentingandari tujuan pribadi bawahan. c) Mengutamakan kerja sama dalam
mencapai tujuan. d) Senang menerima saran, pendapat, dan kritik dari bawahan.
e) Memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada bawahan, dan membimbingnya. f)
Mengusahakan agar bawahan dapat lebih sukses daripada dirinya. g) Selalu
mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
E. Sifat-sifat
pemimpin
Elsbree dan Reutter mengemukakan syarat-syarat bagi seorang
pemimpin pendidikan yang baik seharusnya memiliki: 1) Sifat-sifat personal dan
social yang baik, 2) Kecakapan intelektual, 3) Latar belakang pengetahuan yang
sesuai, 4) Filsafat pendidikan dan bimbingan, 5) Kecakapan dan sikap terhadap
pengajaran dan teknik-teknik mengajar, 6) pengalaman professional dan
nonprofessional, 7) potensi untuk mengembangkan profesinya, dan 8) kesehatan
fisik dan mental. Beberapa sifat-sifat pemimpin yang baik menurut para tokoh
yang lain, diantaranya ialah: 1) Rendah hati dan sederhana, 2) Bersifat suka
menolong, 3) Sabar dan memiliki kestabilan emosi, 4) Percaya pada diri sendiri,
5) Jujur, adil, dan dapat dipercaya, 6) Keahlian dalam jabatan.
F. Kepala
dan pemimpin
Kepala dan pemimpin sebenarnya merupakan dua pengertian yang
tidak identik. Keduanya ada persamaan dan perbedaanya. Persamaannya ialah
keduanya sama-sama menghadapi/ mengepalai kelompok dan bertanggung jawab atas
yang dipimpin/dikepalainya. Sedangkan perbedaan keduanya ialah: 1) kepala
bertindak sebagai penguasa, sedangkan pemimpin bertindak sebagai organisator
dan coordinator, 2) kepala bertanggung jawab terhadap pihak ketiga, atasnya,
pemimpin bertanggung jawab terhadap kelompok yang dipimpinnya, 3) kepala tidak
selalu merupakan bagian dari kelompok, sedangkan pemimpin merupakan bagian dari
kelompok, 4) kekuasaan kepala biasanya berasal dari peraturan-peraturan atau
dari pihak ketiga, sedangkan kekuasaan pemimpin berasal dari kepercayaan anak
buah/kelompoknya, 5) kelompok/anak buah seorang kepala biasanya bukan atas
kemauan sendiri, melainkan ditunjuk oleh peraturan-peraturan (karena ada
pengangkatan seorang ketua dari pihak ketiga), sedangkan pemimpin diangkat oleh
anggota-anggotanya dan dianggap anggota dari kelompoknya.
G.
Peranan seorang pemimpin
Seorang ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa peranan seorang
pemimpin yang baik dapat disimpulkan menjadi 13 macam: a) Sebagai pelaksana
(executive) Seorang pemimpin tidak boleh hanya memaksakan kehendak sendiri
terhadapkelompoknya. Ia harus menjalankan/memenuhi kehendak dan kebutuhan
kelompoknya, juga program atau rencana yang telah ditetapkan bersama. b)
Sebagai perencana (planner) Seorang pemimpin yang baik harus pandai membuat dan
menyusun perencanaan sehingga segala sesuatu yang diperbuatnya bukan secara
sembarangan, tetapi segala tindakan diperhitungkan dan bertujuan. c) Sebagai
seorang ahli (expert) Ia haruslah mempunyai keahlian, terutama keahlian yang
berhubungan dengan tugas jabatan kepemimpinan yang dipegangnya. d) Mewakili
kelompok Ia harus menyadari bahwa baik buruk tindakanya di luar kelompoknya
mencerminkan baik buruk kelompok yang dipimpinnya. e) Mengawasi hubungan
antaranggota kelompok Menjaga jangan sampai terjadi perselisihan, dan berusaha
membangun hubungan yang harmonis dan menimbulkan semangat bekerja kelompok. f)
Bertindak sebagai pemberi ganjaran /pujian dan hukuman. Ia harus dapat
membesarkan hati anggota-anggotanya yang giat bekerja dan banyak sumbangannya
terhadap kelompoknya, dan berani pula menghukum anggota yang berbuat merugikan
kelompoknya. g) Bertindak sebagai wasit dan penengah Dalam menyelesaikan
perselisihan ataupun menerima pengaduan di antara anggota-anggotanya, ia harus
dapat bertindak tegas, tidak pilih kasih ataupun mementingkan salah satu
golongan. h) Merupakan bagian dari kelompok Pemimpin bukanlah seorang yang
berdiri di luar atau di atas kelompoknya. Ia merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari kelompoknya. Dengan demikian, segala tindakan dan usahanya
hendaklah dilakukan demi tujuan kelompoknya. i) Merupakan lambang kelompok
Sebagai lambang kelompok, ia hendaknya menyadari bahwa baik-buruknya kelompok
yang dipimpin nya tercermin pada dirinya. j) Pemegang tanggung jawab Ia
bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan anggota-anggotannya yang
dilakukan atas nama kelompok. k) Sebagai pencipta/memiliki cita-cita Seorang
pemimpin hendaknya mempunyai suatu konsepsi yang baik dan realistis, sehingga
dalam menjalankan kepemimpinannya mempunyai garis yang tegas menuju rah yang
telah dicita-citakan. l) Bertindak sebagai seorang ayah Tindakan pemimpin
terhadap anak buah/kelompoknya hendaknya mencerminkan tindakan seorang ayah
terhadap anak-anaknya. m) Sebagai “kambing hitam” Seorang pemimpin haruslah
menyadari bahwa dirinya merupakan tempat melemparkan kesalahan/keburukan yang
terjadi di dalam kelompoknya. Oleh karena itu dia harus pula mau dan berani
turut bertanggung jawab tentang kesalahan orang lain/anggota kelompoknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar